Ragam
Sering Bau Mulut Saat Stres dan Diet Protein? Kenali Penyebab Utama dan Solusinya
Gaya hidup sibuk kaum urban sering kali memaksa mereka menghadapi tingkat stres yang tinggi dan mengubah pola makan, salah satunya dengan maraknya tren diet tinggi protein.
Redaksi
KabarSumatra.com-- Gaya hidup sibuk kaum urban sering kali memaksa mereka menghadapi tingkat stres yang tinggi dan mengubah pola makan, salah satunya dengan maraknya tren diet tinggi protein.
Tanpa disadari, kombinasi kedua hal ini berdampak langsung pada terganggunya kesehatan interaksi sosial mereka.
Stres yang memicu kondisi mulut kering, ditambah sisa makanan dari diet tinggi protein, ternyata menjadi kondisi ideal bagi bakteri di dalam mulut untuk berkembang biak.
Bakteri inilah yang kemudian memproduksi gas Volatile Sulfur Compounds (VSCs) seperti Hidrogen Sulfida (H2S) dan Metil Merkaptan (CH3SH), yang menjadi penyebab utama bau mulut atau halitosis.
Baca Juga :
72,2% Orang Indonesia Boncos Akibat ‘Ritual Malam’, usmile Hadirkan Solusi Pasta Gigi Strength White
Atasi Insecure Gigi Kuning, Usmile Hadirkan Pasta Gigi Glitter Ungu Pertama
Berdasarkan data dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, masalah halitosis ini ditemukan pada 28,6% masyarakat.
Tingginya kesadaran untuk mengatasi masalah sosial ini pada akhirnya mendorong pertumbuhan pesat di industri perawatannya.
Mengutip laporan Mordor Intelligence mengenai Global Halitosis Market, nilai pasar global produk penanganan bau mulut tercatat mencapai USD 14,41 Miliar pada tahun 2025.
Angka ini mengalami kenaikan sekitar 10,5% menjadi USD 15,93 Miliar pada tahun 2026 ini, didorong oleh kebutuhan masyarakat akan solusi yang benar-benar efektif.
Baca Juga :
Dan+Dan Buka di Palembang, Tempat Belanja Kosmetik Original dan Skincare Tren Kekinian
Sensatia Pastikan Seluruh Rantai Pasok Produk Kosmetiknya Bebas Cruelty-Free
Tren ini diproyeksikan akan terus melesat dengan pertumbuhan lebih dari 65,5%, hingga diprediksi menyentuh angka USD 26,36 Miliar pada tahun 2031 mendatang.
Di sisi lain, masalah sensitivitas gigi juga memicu kecemasan yang tak kalah tingginya.
Berdasarkan studi dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia dan IQVIA (2024), sebanyak 62% responden menyatakan mereka mengalami frekuensi gigi sensitif yang tinggi.
Dan 86% penderita merasa cemas akan rasa sakit saat makan, yang pada akhirnya membuat banyak dari mereka terpaksa menghindari acara sosial.
Pilihan Lain