Langsung ke konten
Sumsel

Perkuat GKSTTB, Dewi Sastrani Dorong Keluarga Palembang Tangguh Bencana

Ketua Tim Penggerak PKK Kota Palembang, Dewi Sastrani Ratu Dewa, mendorong penguatan Gerakan Keluarga Sehat Tanggap dan Tangguh Bencana (GKSTTB) melalui peningkatan peran Dasa Wisma

Redaksi
Perkuat GKSTTB, Dewi Sastrani Dorong Keluarga Palembang Tangguh Bencana (Foto: Dok Pemkot Palembang)
Perkuat GKSTTB, Dewi Sastrani Dorong Keluarga Palembang Tangguh Bencana (Foto: Dok Pemkot Palembang)

KabarSumatra.com-- Ketua Tim Penggerak PKK Kota Palembang, Dewi Sastrani Ratu Dewa, mendorong penguatan Gerakan Keluarga Sehat Tanggap dan Tangguh Bencana (GKSTTB) melalui peningkatan peran Dasa Wisma, pemutakhiran data keluarga, serta optimalisasi pendampingan kesehatan jiwa di tingkat masyarakat

Hal tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Triwulan III GKSTTB di Kampung Lele Beraes, Kelurahan Srimulya, Kecamatan Sematang Borang, Kota Palembang.

Dewi menekankan pentingnya evaluasi terhadap pencapaian program sepanjang Januari hingga September 2026.

Evaluasi tersebut diperlukan untuk mengetahui indikator yang telah tercapai, target yang masih perlu dikejar, serta langkah perbaikan yang harus segera dilakukan sebelum akhir tahun.

Menurutnya, pelaksanaan Monev tidak boleh hanya berakhir pada pengumpulan laporan.

Setiap hasil evaluasi harus dianalisis dan diterjemahkan menjadi rencana tindak lanjut yang jelas, terukur, serta menyentuh langsung kebutuhan keluarga.

Berdasarkan data capaian Januari hingga September 2026, jumlah keluarga dengan dua anak tercatat sebanyak 925 keluarga dari target 1.001 keluarga.

Sementara itu, jumlah penduduk yang berobat ke fasilitas kesehatan mencapai 2.374 orang, jumlah kasus penyakit menular sebanyak 301 kasus, dan penyakit tidak menular sebanyak 2.256 kasus.

Untuk indikator kesehatan ibu dan anak, jumlah bayi lahir sehat tercatat sebanyak 167 bayi, sedangkan bayi lahir cukup bulan juga mencapai 167 bayi.

Angka tersebut melampaui target masing-masing sebanyak 153 bayi.

Adapun jumlah keluarga yang memiliki anggota dengan kriteria gangguan jiwa tercatat sebanyak 15 keluarga, sesuai dengan target yang ditetapkan.

Dewi menilai data tersebut perlu menjadi dasar dalam menentukan prioritas program, termasuk memastikan keluarga yang membutuhkan perhatian memperoleh edukasi, pendampingan, serta akses pelayanan sesuai kebutuhan.

Selain capaian tujuh indikator GKSTTB, keberadaan kelompok Dasa Wisma menjadi salah satu perhatian utama dalam evaluasi tersebut.

Data menunjukkan jumlah kelompok Dasa Wisma pada 2025 sebanyak 21 kelompok, sedangkan capaian yang tercatat selama Januari hingga September 2026 sebanyak tiga kelompok.

Kondisi ini memerlukan verifikasi lebih lanjut untuk memastikan apakah angka tersebut menunjukkan kelompok yang baru terbentuk, kelompok yang aktif berkegiatan, atau kelompok yang telah menyampaikan laporan selama periode berjalan.

Dasa Wisma memiliki peran strategis dalam pemberdayaan keluarga, mulai dari pendataan, pemantauan kondisi kesehatan, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), kepedulian terhadap lingkungan, hingga peningkatan kesiapsiagaan keluarga menghadapi bencana.

Karena itu, Camat Sematang Borang, Lurah Srimulya, serta jajaran TP PKK kecamatan dan kelurahan diharapkan dapat memperkuat koordinasi dan menggerakkan masyarakat di tingkat rukun tetangga (RT) untuk membentuk serta mengaktifkan kelompok Dasa Wisma.

Penguatan tersebut juga perlu diikuti dengan pembaruan dan verifikasi data keluarga agar program yang dijalankan benar-benar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.

Perhatian lainnya diarahkan pada penguatan kesehatan jiwa melalui inovasi Sahabat Jiwa atau Sistem Aksi Bersama Terpadu Kesehatan Jiwa Masyarakat.

 

Pada periode April hingga September 2026, sebanyak 10 kader jiwa telah melakukan skrining kesehatan jiwa terhadap 32 orang.

Dari jumlah tersebut, Selvi Nopriani melakukan skrining terhadap 17 orang, Holila terhadap tujuh orang, sedangkan kader lainnya masing-masing melakukan skrining terhadap satu orang.

Capaian ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperluas deteksi dini serta meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan jiwa.

Ke depan, pelaksanaan program Sahabat Jiwa perlu didukung dengan pendataan yang lebih terperinci.

Meliputi jumlah kader aktif, keluarga yang telah mendapatkan edukasi kesehatan jiwa, keluarga yang membutuhkan perhatian, serta keluarga yang telah memperoleh pendampingan atau pelayanan rujukan.

Melalui langkah tersebut, keberadaan kader diharapkan tidak hanya berfokus pada kegiatan skrining, tetapi juga mampu memastikan keluarga yang membutuhkan bantuan mendapatkan pendampingan sesuai kondisi masing-masing.

Dewi juga menekankan pentingnya penyusunan rencana tindak lanjut berdasarkan hasil Monev Triwulan III.

Rencana tersebut harus memuat indikator yang belum tercapai, sasaran prioritas, bentuk kegiatan, penanggung jawab, batas waktu penyelesaian, serta bukti hasil pelaksanaan.

Kegiatan tindak lanjut dapat berupa pemutakhiran data keluarga, edukasi, kunjungan rumah, pendampingan oleh kader, penguatan koordinasi dengan puskesmas, hingga pelayanan atau rujukan sesuai kebutuhan.

Kecamatan dan kelurahan juga diharapkan melakukan pemantauan secara berkala agar setiap program yang direncanakan dapat terlaksana dan perkembangannya terukur sebelum akhir tahun.

Melalui penguatan GKSTTB, optimalisasi Dasa Wisma, serta pengembangan Sahabat Jiwa, TP PKK Kota Palembang berharap pemberdayaan keluarga semakin efektif dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen bersama untuk mewujudkan keluarga yang sehat, tanggap, tangguh menghadapi bencana, serta memiliki kualitas hidup yang lebih baik di Kota Palembang.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua